Andragogi: Konsep Pembelajaran Abad Ke-21
Istilah andragogi diambil dari bahasa Yunani Kuno andr- yang berarti orang dewasa dan agogos yang berarti memimpin. Konsep andragogi telah diperkenalkan dalam dunia pendidikan oleh Alexander Kapp pada 1830-an dan kembali populer pada 1970-an setelah dibahas oleh Malcolm Knowles. Konsep andragogi dianggap sebagai salah satu karakteristik pembelajaran abad ke-21 karena menekankan pada keterlibatan aktif, kemandirian, dan relevansi pembelajaran dengan kebutuhan individu peserta didik atau pembelajar yang selaras dengan tantangan era digital dan kebutuhan keterampilan kritis di dunia modern.
Perbedaan Pedagogi dan Andragogi
Pedagogi menekankan pembelajaran untuk condong atau lebih fokus pada konten dimana pendidik umumnya menentukan apa yang penting untuk diketahui siswa. Andragogi, di sisi lain, lebih menekankan proses daripada konten pembelajaran dimana pendidik berperan sebagai fasilitator, alih-alih sebagai sosok otoritatif dalam pembelajaran. Pergeseran dari model berbasis pengajaran ke model berbasis fasilitasi ini adalah aspek inti dari pendidikan orang dewasa atau andragogi yang dunggul dari sisi fleksibilitas, kolaborasi, dan implikasi serta relevansi.
Konsep dan Teori Andragogi
Knowles mengidentifikasi beberapa prinsip fundamental yang membedakan pembelajaran orang dewasa dari pendidikan anak-anak, yang kemudian menjadi dasar praktik andragogi. Menurut Knowles, pembelajar dewasa memiliki motivasi yang berbeda dalam pembelajaran. Orang dewasa umumnya mampu membawa pengalaman serta pengetahuan sebelumnya ke dalam lingkungan belajar dan lebih memilih pendekatan pembelajaran yang mandiri. Berikut ini prinsip-prinsip fundamental yang menjadi karakteristik dari andragogi.
1. Andragogi: Pembelajaran Mandiri
Orang dewasa biasanya menginginkan kontrol atas proses belajar mereka. Berbeda dengan anak-anak yang lebih bergantung pada guru untuk mengarahkan belajar mereka, orang dewasa cenderung lebih menyukai otonomi dan kemandirian. Instruktur yang melibatkan orang dewasa sebagai peserta aktif dalam menetapkan tujuan belajar, memilih sumber daya, dan mengevaluasi kemajuan mereka dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih efektif.
2. Andragogi: Pembelajaran Berbasis Pengalaman
Orang dewasa membawa berbagai pengalaman hidup ke lingkungan belajar yang bisa menjadi sumber yang berharga bagi diri mereka sendiri dan rekan-rekannya. Mengintegrasikan pengalaman-pengalaman ini ke dalam proses pembelajaran memungkinkan orang dewasa untuk mengaitkan pengetahuan baru dengan pemahaman sebelumnya, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan berdampak. Pendidik dapat memanfaatkan ini dengan mendorong diskusi, studi kasus, dan proyek kelompok yang memanfaatkan latar belakang siswa.
3. Andragogi: Kesiapan untuk Belajar
Orang dewasa umumnya lebih termotivasi untuk mempelajari topik yang mereka anggap relevan dengan kehidupan pribadi atau profesional mereka. Prinsip kesiapan untuk belajar menunjukkan bahwa orang dewasa belajar lebih efektif ketika kegiatan belajar sesuai dengan keadaan, kebutuhan, dan tujuan mereka saat ini. Dengan mengidentifikasi dan menangani tantangan atau tujuan langsung pembelajar, pendidik dapat meningkatkan keterlibatan dan retensi.
4. Andragogi: Pendekatan Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)
Berbeda dengan pelajar non-dewasa (pedagogi) yang umumnya mempelajari konsep-konsep abstrak dengan anggapan bahwa konsep-konsep tersebut akan berguna di kemudian hari, pelajar dewasa dalam andragogi lebih tertarik untuk memecahkan masalah nyata yang sedang dihadapi. Andragogi mempromosikan pendekatan berbasis masalah, yang mendorong pendidik untuk merancang pelajaran berdasarkan isu praktis daripada konsep teoretis. Dengan fokus pada aplikasi, pendidik dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi orang dewasa.
5. Motivasi Intrinsik
Pelajar non-dewasa (maksudnya dalam pedagogi) umumnya lebih mengandalkan motivasi eksternal seperti nilai atau pujian. Dalam andragogi, pelajar dewasa umumnya lebih terdorong oleh faktor intrinsik seperti kebutuhan, kepuasan pribadi, harga diri, dan pencapaian tujuan yang unik. Memahami dan memanfaatkan motivasi intrinsik ini dapat membantu pendidik menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi orang dewasa.
6. Implikasi dan Relevansi Pembelajaran
Orang dewasa perlu melihat manfaat dari apa yang mereka pelajari dan memahami bagaimana hal tersebut berkaitan dengan kehidupan pribadi dan profesional mereka. Ini sering disebut sebagai prinsip "need to know" atau kebutuhan untuk tahu. Pada intinya prinsip ini menekankan pada konteks kesadaran terhadap implikasi dan manfaat dari sebuah pembelajaran, yakni, pembelajar lebih mungkin terlibat jika mereka menyadari manfaat dari pengetahuan atau keterampilan baru yang diperoleh.
Andragogi: Further Reading
- Roe, L. (2023). Applying andragogy to service-learning in graduate education: An interpretive phenomenological analysis. Journal of Adult and Continuing Education, 29(1), 147-169, ISSN 1477-9714. doi:10.1177/14779714221079368
- Bowling, J. (2023). Pedagogy and Andragogy: Intersection for Learning. The Handbook of Adult and Continuing Education: 2020 Edition, 158-167. doi:10.4324/9781003447849-20
- Peltz, D.P. (2021). Andragogy, culture, and adult learning worldviews. Research Anthology on Adult Education and the Development of Lifelong Learners, 257-279. doi:10.4018/978-1-7998-8598-6.ch012
- Rowtho, V. (2020). Doctoral boot camps: from military concept to andragogy. Education and Training, 62(4), 379-392, ISSN 0040-0912. doi:10.1108/ET-11-2018-0233
- Galustyan, O.V. (2019). E-learning within the Field of Andragogy. International Journal of Emerging Technologies in Learning, 14(9), 148-156, ISSN 1868-8799. doi:10.3991/ijet.v14i09.10020